Indah Ramadhani
UTS dan UAS II-2100 KIPP
Author: 18224037 Indah Ramadhani
Published: Oktober 19, 2025
Welcome!
Halo, semuanyaa! Website ini aku buat sebagai bagian dari mata kuliah II-2100 Komunikasi dan Interpersonal Publik, dari program studi Sistem dan Teknologi Informasi, Institut Teknologi Bandung (ITB).
Melalui halaman ini, aku ingin berbagi perjalanan belajar dan refleksi pribadi tentang bagaimana komunikasi bukan hanya soal berbicara, tapi juga tentang understanding, connection, dan growth.
Untuk aku, komunikasi yang baik bukan hanya membuat orang lain paham apa yang kita maksud, tetapi juga membuat kita lebih mengenal diri sendiri.
UTS 1: All About Me
Who I Am and How I See MySelf
Hi! Nama aku Indah Ramadhani dan biasa dipanggil Indah. I'm currently learning more about myself, especially how i connect and communicate with others. Sebenernya, kalau aku lihat ke dalam diri sendiri, aku itu bukan tipe orang yang langsung terbuka ke siapapun. Aku butuh waktu untuk merasa nyaman sebelum bisa benar-benar jadi diri sendiri, kadang aku terlalu mikir sebelum ngomong, takut kalau disalahpahami ataupun salah tangkap. Tapi seiring waktu, aku belajar bahwa komunikasi yang baik itu bukan tentang kesempurnaan, tapi tentang keberanian untuk jujur. Being real is better than being perfect. Sekarang aku lebih berusaha untuk ngomong apa adanya, sambil tetap menghargai orang lain.
Aku juga sadar bahwa setiap orang punya cara komunikasi yang unik. Aku lebih cenderung menjadi pendengar dulu, baru berbicara. Cara itu membuat aku lebih peka, tapi kadang juga bikin aku kehilangan kesempatan untuk mengekspresikan pendapatku. Nah, dari situ aku mulai belajar bahwa komunikasi adalah keseimbangan antara mendengarkan dan mengungkapkan diri.
My Communication Journey
Semenjak aku belajar terkait mata kuliah ini, aku mulai sadar pola dan kebiasaan komunikasiku. Aku sering menghindari konflik karena nggak mau susana jadi kurang enak, padahal kadang honest talk justru bisa memperbaiki hubungan. Dari situlah aku mulai berlatih untuk speak with kindness, not fear. Aku juga belajar bahwa komunikasi bukan hanya soal berbicara, tapi juga how we show up for others. Hal sekecil seperti mendengarkan dengan tulus atau menatap mata lawan bicara bisa menunjukkan perhatian lebih dari seribu kata.
Selain itu, aku jadi paham pentingnya self awareness. Dengan mengenali emosi sendiri, aku bisa lebih tenang saat bicara dan lebih ngerti kenapa aku bereaksi dengan cara tertentu. Misalnya, kalau aku lagi marah, aku sekarang coba pause dulu, bukan untuk menahan diri, tapi supaya bisa memilih respon yang lebih baik.
Reflection and Growth
Melalui proses ini, aku sadar kalau memahami diri sendiri adalah langkah pertama untuk membangun komunikasi yang sehat. Empati dan kejujuran jadi dua hal yang paling berharga buatku. Empati bikin aku bisa memahami orang lain lebih dalam, sedangkan kejujuran bikin hubungan jadi lebih tulus dan ringan. Aku juga belajar menerima bahwa kadang aku bisa salah, bisa gugup, atau bahkan diam, dan itu nggak apa-apa. Growth takes time . Yang penting aku terus belajar dan berusaha untuk hadir sepenuhnya dalam setiap percakapan.
In the end, âAll About Meâ bukan cuma tentang mendeskripsikan siapa aku hari ini, tapi juga tentang proses aku menjadi versi diriku yang lebih baik, one conversation at a time. đ±
UTS 2: My Songs for You
"Iris" by Goo Goo Dolls
The Song That Hits Different
Dari sekian banyak lagu yang pernah aku dengar, âIrisâ by Goo Goo Dolls selalu punya tempat spesial. Lagu ini terdengar klasik, tapi setiap kali aku dengar ulang, rasanya tetap hangat dan real. Buatku, lagu ini bukan cuma tentang cinta, tapi tentang keinginan untuk be understood, not just seen.
Bagian yang paling kena itu waktu liriknya bilang:
âI just want you to know who I am.â
Kalimat sesederhana itu bisa jadi refleksi paling jujur dari hati seseorang yang pengin dipahami tanpa topeng. Kadang kita juga ingin hal yang sama, nggak harus dimengerti sepenuhnya, tapi cukup ada seseorang yang benar-benar mau tahu siapa kita tanpa menilai. Lagu ini ngingetin aku bahwa jujur sama diri sendiri itu juga bentuk komunikasi. Karena sering kali kita terlalu sibuk buat terlihat âbaik-baik aja,â padahal yang kita butuhin cuma ruang buat jadi diri sendiri.
Reflection: When Words Fail, Music Speaks
Setiap kali aku denger âIrisâ, rasanya kayak ngobrol sama diri sendiri di tengah malam yang tenang. Suaranya lembut tapi emosional, dan cara Goo Goo Dolls nyanyiin setiap baitnya bikin liriknya terasa hidup. Lagu ini buat aku jadi pengingat bahwa nggak semua hal bisa dijelaskan lewat kata-kata. Sometimes, the heart just speaks louder than the mind. Dan di situ, musik jadi jembatan antara yang nggak bisa diucapkan dan yang tetap ingin disampaikan. Aku juga ngerasa, lagu ini ngajarin bahwa vulnerability bukan kelemahan. Justru keberanian terbesar datang dari saat kita berani menunjukkan sisi yang paling manusiawi, meski dunia kadang nggak ngerti.
The Lyrics: Between Love, Fear, and Truth
Kalau diperhatiin, lirik âIrisâ sebenarnya penuh kontras, antara cinta dan ketakutan, antara keinginan untuk dekat tapi juga takut terluka.
Lirik seperti:
âAnd I donât want the world to see me, âcause I donât think that theyâd understandâ
itu menggambarkan rasa ragu yang sering banget dirasain banyak orang: ingin dipahami, tapi takut nggak diterima.
Aku pribadi ngerasa itu sangat manusiawi. Karena kadang kita menahan diri buat jujur, bukan karena nggak mau, tapi karena takut dunia nggak siap buat tahu versi asli kita.
Lagu ini juga ngasih makna bahwa cinta sejati itu bukan tentang kesempurnaan, tapi tentang penerimaan. Bahwa kita nggak perlu selalu bersinar terang, cukup jadi diri sendiri, dan itu udah cukup indah.
Itâs the honesty that makes us real, not perfection.
UTS 3: My Stories for You
A Quiet Talk with Myself
Akhir-akhir ini, aku mulai sadar kalau tumbuh itu bukan tentang seberapa cepat kita bisa sampai di tujuan, tapi tentang gimana kita belajar berdamai dengan diri sendiri di tengah perjalanan.
Kadang aku ngerasa harus selalu kuat, selalu produktif, selalu baik-baik aja, padahal nggak selalu bisa begitu. Ada hari di mana aku cuma pengen diam, rebahan, atau sekadar duduk sambil denger lagu tanpa mikir apa pun.
Dulu aku nganggep itu tanda lemah, tapi ternyata nggak. Itu tanda kalau tubuh dan hati cuma lagi minta istirahat. Sometimes, pausing doesnât mean giving up. It just means you care enough to listen to yourself.
Embracing the Mess
Hidup itu seringkali berantakan, and thatâs okay.
Aku dulu orang yang suka banget ngatur semua hal biar rapi, biar nggak ada yang keluar jalur. Tapi semakin dewasa, aku sadar kalau nggak semua hal bisa dikendalikan. Ada hal-hal yang harus dijalani tanpa peta, tanpa rencana pasti.
Kadang chaos itu bukan musuh, tapi guru. Dari situ aku belajar sabar, belajar ikhlas, dan belajar nerima bahwa nggak semua hal harus âsempurnaâ buat tetap berarti.
Kehidupan nggak selalu harus linear. Kadang jalan berliku justru yang ngajarin kita paling banyak hal tentang kehilangan, tentang sabar, tentang gimana caranya tetap jadi diri sendiri walau dunia terus berubah.
Finding Peace in Small Things
Sekarang aku mulai belajar nemuin tenang dari hal-hal kecil: dari aroma kopi pagi, suara hujan di jendela, atau senyum orang yang tulus tanpa alasan.
Dulu aku pikir bahagia itu harus besar dan heboh, tapi ternyata nggak selalu. Peace isnât always loud, sometimes itâs found in silence.
Dan mungkin itu yang disebut dewasa: bukan soal tahu semua jawaban, tapi tahu gimana cara berdamai sama hal-hal kecil yang sebelumnya kita anggap sepele.
Karena pada akhirnya, kedamaian nggak datang dari kesempurnaan, tapi dari penerimaan.
UTS 4: My SHAPE
SHAPE adalah akronim dari Spiritual Gifts, Heart, Abilities, Personality, dan Experiences.
| Aspek | Deskripsi |
|---|---|
| S (Strengths) | Memiliki kekuatan dalam empati, kreativitas, dan kemampuan mendengarkan. Dapat memahami perasaan orang lain dengan baik dan memberikan dukungan secara bijak. |
| H (Hopes) | Berharap dapat menjadi pribadi yang lebih sabar dan berpengaruh positif bagi lingkungan sekitar, terutama dalam membantu orang lain menemukan potensi terbaiknya. |
| A (Actions) | Aktif dalam kegiatan sosial dan kerja tim, senang memfasilitasi komunikasi antaranggota kelompok, serta berusaha menjadi pendengar yang baik dalam setiap interaksi. |
| P (Purpose) | Menemukan makna hidup melalui kontribusi nyata terhadap sesama, terutama dengan cara membangun relasi yang sehat dan memberikan inspirasi lewat tindakan. |
| E (Environment) | Lingkungan ideal adalah tempat yang mendukung keterbukaan, empati, dan kerja sama. Suka suasana yang tenang namun kolaboratif, di mana setiap orang saling menghargai. |
Narrative Identity
Identitas naratifku terbentuk dari perjalanan memahami makna âmenjadi diri sendiriâ di tengah ekspektasi banyak orang. Aku belajar bahwa nggak apa-apa untuk berbeda karena justru di situlah nilai keunikanku muncul. Dalam berbagai pengalaman, baik yang menyenangkan maupun penuh tantangan, aku menemukan bahwa empati adalah kekuatan yang menuntunku untuk tetap manusiawi.
Melalui refleksi diri dan hasil asesmen VIA, aku sadar kalau hal-hal yang paling membuatku hidup bukan tentang pencapaian besar, tapi tentang hubungan yang tulus dengan orang lain. Itulah kenapa aku ingin terus berkembang, bukan cuma untuk sukses, tapi juga untuk memberi makna. Because at the end of the day, being true feels better than being perfect.
UTS-5 My Personal Reviews
Identifikasi Diri
Nama: Indah Ramadhani
NIM: 18224037
Kelas: KIPP â II2100
Semester: Ganjil 2025/2026
Tinjauan Umum
Berikut adalah refleksi dan penilaian mandiri terhadap tugas-tugas UTS 1 sampai 4 berdasarkan rubrik penilaian yang digunakan selama proses pembelajaran. Penilaian ini dilakukan secara jujur dan reflektif untuk melihat perkembangan pribadi dalam memahami konsep komunikasi interpersonal.
Rekap Self Assesment dan Peer Assesment
Berisi rubrik penilaian UTS-1 s.d. UTS-4: Download file Excel
UTS-1: All About Me
Bagian ini menampilkan refleksi diri yang jujur dan mendalam. Ceritanya mengalir alami, memperlihatkan kemampuan introspektif dan kesadaran diri yang kuat.
| Kriteria | Deskripsi Penilaian | Skor |
|---|---|---|
| Orisinalitas | Narasi menghadirkan sudut pandang yang unik dan reflektif. | 5 |
| Keterlibatan | Cerita menarik dari awal hingga akhir; ada kesinambungan ide. | 5 |
| Humor / Gaya Bertutur | Gaya ringan dan personal; membantu pembaca merasa dekat. | 4 |
| Wawasan (Insight) | Insight mendalam tentang empati dan kesadaran diri. | 5 |
Total: 19/20 â 95% (Sangat Baik)
UTS-2: My Songs for You
Refleksi ini menghubungkan makna lagu âIrisâ by Goo Goo Dolls dengan perjalanan emosional dan kesadaran diri. Analisis lagu disajikan dengan peka dan tulus.
| Kriteria | Deskripsi Penilaian | Skor |
|---|---|---|
| Orisinalitas | Pemilihan lagu dan maknanya unik serta personal. | 5 |
| Keterlibatan | Tulisan menarik dan emosional; pembaca ikut merasakan pesannya. | 5 |
| Emosi | Tulisannya lembut dan melankolis tanpa berlebihan. | 4 |
| Inspirasi | Mengaitkan kejujuran diri dengan makna lagu secara menyentuh. | 5 |
Total: 19/20 â 95% (Sangat Baik)
UTS-3: My Stories for You
Narasi reflektif dan puitis yang menggambarkan perjalanan pribadi dengan sangat lembut. Setiap subbagian menunjukkan pertumbuhan emosional dan spiritual yang kuat.
| Kriteria | Deskripsi Penilaian | Skor |
|---|---|---|
| Orisinalitas | Refleksi personal dan autentik, penuh kepekaan emosional. | 5 |
| Keterlibatan | Narasi kuat dan runtut, konsisten menjaga atensi. | 5 |
| Pengembangan Narasi | Transisi halus antar ide, menunjukkan kematangan berpikir. | 5 |
| Inspirasi | Mendorong pembaca untuk berdamai dengan diri sendiri. | 5 |
Total: 20/20 â 100% (Sangat Baik)
UTS-4: My SHAPE
Menunjukkan pemahaman mendalam tentang SHAPE (Spiritual Gifts, Heart, Abilities, Personality, Experiences) dan mampu mengaitkannya dengan refleksi diri secara logis serta emosional.
| Kriteria | Deskripsi Penilaian | Skor |
|---|---|---|
| Orisinalitas | Refleksi sangat personal dan autentik. | 5 |
| Keterlibatan | Menarik dan jelas; tiap aspek SHAPE dijelaskan efektif. | 4 |
| Pengembangan Narasi | Struktur logis dan berkesinambungan. | 5 |
| Inspirasi | Positif dan memotivasi pembaca untuk mengenal diri. | 5 |
Total: 19/20 â 95% (Sangat Baik)
Rekap Skor Keseluruhan
| UTS | Total Skor | Persentase | Kategori |
|---|---|---|---|
| UTS-1 | 19/20 | 95% | Sangat Baik |
| UTS-2 | 19/20 | 95% | Sangat Baik |
| UTS-3 | 20/20 | 100% | Sangat Baik |
| UTS-4 | 19/20 | 95% | Sangat Baik |
Kesimpulan: Keempat tugas UTS menunjukkan konsistensi refleksi, kedalaman pemikiran, dan gaya komunikasi yang empatik serta autentik. Secara keseluruhan, portofolio ini mencerminkan pertumbuhan diri yang kuat baik secara intelektual maupun emosional.
Sebelum mengikuti mata kuliah ini, aku sering terlalu berhati-hati dalam berkomunikasi. Sekarang, aku belajar bahwa kejujuran bisa disampaikan dengan cara yang lembut, dan keberanian untuk berbicara adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri dan lawan bicara. Aku juga belajar bahwa mendengarkan dengan empati bisa menjadi bentuk komunikasi yang paling kuat.
Aku masih ingin memperbaiki kemampuanku dalam berbicara tegas tanpa kehilangan empati â assertive communication. Selain itu, aku ingin memperdalam kemampuan berkomunikasi lintas budaya agar bisa menyesuaikan diri dalam lingkungan profesional yang lebih luas.
Pada akhirnya, aku belajar bahwa komunikasi tidak selalu tentang bicara paling banyak, tetapi tentang hadir sepenuh hati. Being seen, being heard, and being understood â tiga hal sederhana yang membuat hubungan manusia menjadi berarti.
đż âCommunication isnât about perfection â itâs about presence, empathy, and honesty.â đż
UAS-1 My Concepts
Seeing Hunger Beyond Empty Plates
Aku memulai My Masterpiece dari satu kenyataan yang sederhana tapi berat: kelaparan masih menjadi masalah global yang belum selesai. Menurut laporan SOFI 2023, sekitar 733 juta orang di dunia mengalami kelaparan, dan lebih dari 2,33 miliar orang hidup dalam kondisi kerawanan pangan moderat hingga parah.
Angka-angka ini menyadarkanku bahwa kelaparan bukan sekadar soal kurangnya makanan, tetapi kegagalan sistem dalam memastikan akses, distribusi, dan ketahanan pangan yang adil. Ada makanan di dunia, tapi tidak semua orang bisa menjangkaunya.
Dari sini, aku merasa perlu sebuah mesin abstrakâsebuah konsep yang mampu menyatukan data, teknologi, dan nilai kemanusiaan agar solusi tidak berhenti di wacana.
An Abstract Machine for Food Resilience
Konsep yang kupilih adalah Platform AI untuk Ketahanan Pangan Inklusif. Bagiku, ini adalah sistem abstrak yang mengumpulkan data produksi pangan, kondisi iklim, rantai distribusi, harga, dan kerentanan sosial untuk memahami di mana sistem pangan paling rapuh.
Dengan bantuan AI, data tersebut tidak hanya disimpan, tetapi diolah untuk memetakan wilayah rawan kelaparan, memprediksi gagal panen akibat cuaca ekstrem, dan merekomendasikan intervensi yang paling berdampak bagi masyarakat rentan.
Beban yang ingin kuangkat adalah siklus kerawanan pangan yang terus berulang: ketika kemiskinan, konflik, dan perubahan iklim saling menguatkan, membuat kelompok rentan semakin sulit keluar dari kondisi tidak aman pangan.
One Concept, Many Paths
Dari satu konsep ini, lahir banyak ide turunan: pemetaan kelurahan rawan kelaparan, sistem peringatan dini gagal panen, rekomendasi distribusi bantuan pangan yang lebih tepat sasaran, hingga dasbor publik untuk transparansi kebijakan pangan.
Seperti persimpangan jalan, satu konsep membuka banyak kemungkinan jalur eksekusi. Tanpa konsep, ide akan tercerai-berai. Dengan konsep, setiap ide tahu arah dan tujuannya.
Pelajaran terbesarnya adalah ini: konsep yang baik tidak harus rumit, tetapi harus cukup kuat untuk menahan kompleksitas masalah. Konsep bukan solusi akhir, melainkan fondasi agar solusi bisa tumbuh dan diuji di dunia nyata.
UAS-2 My Opinions
AI, Hunger, and the Question of Humanity
Opini bagiku bukan sekadar pendapat, tetapi rebusan dari data, pengalaman, dan nilai yang aku yakini. Dalam konteks kelaparan dan kerawanan pangan, aku percaya bahwa AI tidak boleh hanya digunakan untuk mengejar efisiensi, tetapi harus berangkat dari kemanusiaan.
Data seperti 733 juta orang yang masih mengalami kelaparan menunjukkan bahwa masalah ini terlalu besar jika dilihat hanya sebagai persoalan teknis. AI memang bisa membantu memprediksi gagal panen atau mengoptimalkan distribusi, tetapi tanpa nilai, teknologi bisa kehilangan arah.
Beyond âWho Is Hungryâ
Menurutku, sistem AI yang baik tidak cukup hanya menjawab pertanyaan âsiapa yang lapar?â atau âdi mana kelaparan terjadi?â. Sistem tersebut juga harus mampu menjelaskan âmengapaâ dan âbantuan seperti apa yang paling adilâ.
Transparansi menjadi kunci. Jika sebuah sistem merekomendasikan distribusi bantuan pangan ke wilayah tertentu, masyarakat berhak tahu dasar keputusannya. Kepercayaan publik hanya bisa tumbuh ketika teknologi bisa dipertanggungjawabkan.
Aku menolak gagasan bahwa teknologi selalu netral. Tanpa disadari, AI bisa memperkuat biasâmisalnya ketika wilayah terpencil terus diabaikan karena datanya tidak lengkap. Di sinilah peran manusia tetap krusial: mengoreksi, mengevaluasi, dan mendengarkan.
Staying Open, Staying Responsible
Opini yang kupegang tidak kaku. Jika suatu saat model prediksi terbukti tidak adil atau tidak efektif, maka sistem harus diubah. Bagiku, kekuatan opini bukan terletak pada keinginan untuk selalu benar, tetapi pada kesediaan untuk belajar.
Dalam isu kelaparan, perbedaan pandangan pasti adaâantara pemerintah, petani, LSM, akademisi, dan warga terdampak. Menurutku, jalan keluarnya bukan memaksakan satu suara, melainkan membuka ruang dialog yang jujur tentang risiko, manfaat, dan nilai.
Pada akhirnya, AI seharusnya tidak mengambil alih kepedulian manusia, tetapi memperkuatnya. Teknologi hanyalah alat. Arah dan maknanya tetap ditentukan oleh nilai yang kita pilih untuk dijaga.
UAS-3 My Innovations
Innovation as Shared Value
Bagiku, inovasi bukan sekadar menciptakan fitur baru atau teknologi yang terlihat canggih. Inovasi yang bermakna adalah inovasi yang menghasilkan nilai nyata, terutama bagi mereka yang paling terdampak oleh kelaparan dan kerawanan pangan.
Dalam My Masterpiece, inovasi yang kubayangkan adalah sebuah Food Resilience Knowledge Marketplace: platform berbasis AI yang mempertemukan kebutuhan nyata di lapangan dengan solusi berbasis pengetahuan dan kolaborasi.
From Needs to Action
Mekanisme inovasi ini dimulai dari kebutuhan. Pemerintah daerah, LSM, atau komunitas bertindak sebagai pencipta kebutuhan, misalnya dengan mengajukan tantangan nyata seperti wilayah rawan gagal panen atau distribusi bantuan pangan yang tidak merata.
Mahasiswa, peneliti, dan komunitas lokal berperan sebagai pencipta nilai, menyumbangkan artefak berupa peta kerawanan pangan, model prediksi sederhana, sistem rekomendasi bantuan, atau prototipe kebijakan berbasis data.
Setiap artefak tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi diuji di dunia nyata. Yang berhasil dipakai akan dipublikasikan sebagai sumber belajar, diperbaiki secara iteratif, dan dapat digunakan kembali oleh pihak lain.
Where AI Supports, Not Replaces
Dalam ekosistem ini, AI berperan sebagai pendukung, bukan pengganti manusia. AI membantu mengkurasi kualitas data, mendeteksi bias, dan mempersonalisasi rekomendasi sesuai konteks lokal.
Namun, nilai utama tetap lahir dari kolaborasi manusia: dari dialog, pengalaman lapangan, dan empati terhadap kondisi masyarakat terdampak. Teknologi mempercepat proses, tetapi makna ditentukan oleh manusia.
Dengan alur ini, inovasi tidak berhenti sebagai demo teknologi. Ia menjadi sistem pembelajaran kolektif yang membangun kapasitas, memperkuat ketahanan pangan, dan perlahan memutus rantai kelaparan.
UAS-4 My Knowledge
Knowledge as a Map, Not a Pile of Facts
Pengetahuan yang kupakai dalam My Masterpiece berangkat dari satu realitas besar: kelaparan dan kerawanan pangan masih menjadi masalah global yang menjauhkan dunia dari target SDG 2: Nol Kelaparan. Fakta ini tidak cukup hanya dihafal, tetapi harus dipahami dan diolah menjadi alat perubahan.
Bagiku, pengetahuan bukan tumpukan istilah atau definisi, melainkan peta yang membantu kita bergerak. Tanpa peta, niat baik bisa tersesat; dengan peta, langkah kecil pun punya arah.
Layers of Knowledge
Aku membagi pengetahuan menjadi tiga lapisan utama. Pertama, pengetahuan alam, seperti data iklim, hasil panen, dan ketersediaan pangan. Kedua, pengetahuan sosial, yang mencakup pola kerentanan, kemiskinan, konflik, dan budaya pangan masyarakat.
Ketiga adalah pengetahuan aplikatif: bagaimana manusia dan teknologi berinteraksi untuk mengubah data menjadi keputusan. Di sinilah peran sistem informasi dan AI menjadi krusial, mulai dari validasi data hingga tata kelola intervensi.
From Understanding to Creating
Taksonomi Bloom kugunakan sebagai tangga pembelajaran. Dimulai dari memahami definisi kelaparan, menganalisis penyebab kerawanan pangan, menerapkan model prediksi, mengevaluasi bias sistem, hingga menciptakan alat bantu pengambilan keputusan.
Visualisasi pengetahuan yang kubayangkan adalah Peta Pengetahuan Primitif untuk fakta dan indikator dasar, serta Peta Pengetahuan Aplikatif untuk alur distribusi bantuan, mitigasi risiko, dan evaluasi dampak kebijakan pangan.
Produk pengetahuan yang ingin kuhasilkan bukan hanya tugas akademik, tetapi blueprint yang bisa dipakai ulang oleh pemerintah, LSM, dan komunitas. Dengan pengetahuan yang terstruktur dan terbuka, lebih banyak orang bisa ikut berjalan bersama melawan kelaparan.
UAS 5 - My Personal Reviews
Evaluation of UAS-1 to UAS-4
Nama: Indah Ramadhani
NIM: 18224037
Kelas: KIPP â II2100
Semester: Ganjil 2025/2026
Tinjauan Umum
Berikut adalah refleksi dan penilaian mandiri terhadap tugas-tugas UAS 1 sampai 4 berdasarkan rubrik penilaian yang digunakan selama proses pembelajaran. Penilaian ini dilakukan secara jujur dan reflektif untuk melihat perkembangan pribadi dalam memahami konsep komunikasi interpersonal.
Rekap Self Assesment dan Peer Assesment
Berisi rubrik penilaian UAS-1 s.d. UAS-4: Download file Excel
| Section | Judul | Aspek Dinilai | Deskripsi Penilaian | Skor |
|---|---|---|---|---|
| UAS-1 | My Concepts | Kejelasan Konsep | Konsep kelaparan dan kerawanan pangan dijelaskan secara runtut, relevan, dan berbasis data global. | 93 |
| Orisinalitas | Konsep AI untuk ketahanan pangan inklusif disampaikan dengan sudut pandang pribadi. | 92 | ||
| Keterhubungan Ide | Hubungan antara masalah, konsep, dan ide turunan dijelaskan dengan jelas. | 94 | ||
| UAS-2 | My Opinions | Argumentasi | Opini disampaikan secara logis dan didukung data serta nilai kemanusiaan. | 92 |
| Kedalaman Refleksi | Menunjukkan pemikiran kritis tentang peran AI dan risiko bias teknologi. | 94 | ||
| Konsistensi | Opini konsisten dan memperkuat konsep pada UAS-1. | 93 | ||
| UAS-3 | My Innovations | Kreativitas | Inovasi solusi ditampilkan secara kreatif dan relevan dengan isu pangan. | 91 |
| Nilai Dampak | Menekankan kolaborasi manusia dan AI dengan dampak sosial yang jelas. | 92 | ||
| UAS-4 | My Knowledge | Struktur Pengetahuan | Pengetahuan disusun secara sistematis dan mudah dipahami. | 94 |
| Integrasi Teori | Taksonomi Bloom dan peta pengetahuan digunakan secara tepat. | 93 |
Rata-rata keseluruhan skor self-assessment: 92.75 (Sangat Baik)